Postingan

Dwi Suryo_053912625_T3_Digital Media

Gambar
 

Percakapan kita terhenti di suatu pagi

Ini bukan drama kata mu. Ya, ini adalah lelucon kata ku. Lelucon tersatir yang pernah aku dengar. Percakapan kita terhenti disuatu  pagi. Bersama tawa mu yang memecah hari. Biar a ku pergi.

Karena hidup adalah merayakan

Terkadang hidup gak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Terkadang sesuatu yang tampak sempurna diawal belum tentu berakhir membahagiakan, bisa jadi malah berakhir dengan kecewa. Rasanya gak adil jika kita hanya merayakan sesuatu yang sesuai dengan keinginan kita. Padahal hidup tidak demikian. Ada hal-hal yang membuat kita kecewa. Rayakanlah, rayakan kekecewaan itu. Rayakanlah. Menangislah untuk merayakannya. Jika itu mampu membuatmu tenang. Kemudian hentikan tangismu. Rayakanlah dengan senyuman. Seorang sufi bernama Candra Malik pernah berkata "ridho melepas, ikhlas menerima" jadi apapun yang terlepas atau apapun yang kau terima rayakanlah, karena hidup adalah merayakan.

Bukan harus seperti ini

13 purnama yang lalu kau datang. Aku coba acuhkan. Tapi kau terus datang dan buat ku terlena. Seseorang datang inginkan sebuah rahasia. Pertanyakan rasa ku atas mu. Ya, dia sahabat karibmu. Bagai pendosa aku berjalan mencoba mengiringi langkah mu. Dalam tiap malam sepi dimana kau ingin tumpahkan isi hati. Kenapa sekarang begini??? Kau bilang risih atas tanya ku padamu Kenapa begini?? Bukannya kau yang dulu datang dan menghampiri? Kenapa begini?? Kau yang suruh aku beranikan diri pada satu malam yang sunyi. Bercanda, ungkap mu polos tanpa dosa. Wajarkah bila aku kecewa?? Kau.. kalau begitu cara main mu. Aku pasti sudahi dari dulu. Ah, tapi siapa sangka kau tega bermain atas rasa penasaranku. Kau??? Yang aku sesalkan hanya diriku. Haruskah kita seperti ini? Apa yang tersembunyi??

Bio Seorang Sahabat

Tiba tiba keinget bio seorang teman di twitter, ”hanya ingin banyak yang menangisi ketika mati” , begitu tulisnya. Sekilas seperti bio-bio lainnya, tak ada yang berbeda. Tapi ada yang membuat saya bertanya pada diri sendiri. Kira-kira ketika nanti saya mati berapa banyak orang yang menangisi kepulangan saya? Apakah akan sebanyak orang yang menangisi wafatnya habib munzir dan ustad uje al buqhori, yang pengantarnya sampai ribuan orang. Atau malah ketika jenazah saya hendak dikebumikan gak ada sama sekali yang mengantarnya. Atau jangan-jangan para pengantar itu rela membopong keranda karena imbalan uang? Ada aksi ada reaksi, begitu kira-kira bunyi hukum newton kedua. Banyaknya pengantar habib munzr dan ustad uje pasti gak lepas dari apa yang mereka lakukan  selama hidup. Pasti banyak orang yang merasakan kebaikan mereka selama hidup, sehingga ketika mereka meninggal, orang orang itu merasa kehilangan. Balik lagi ke persoalan ketika saya mati berapa banyak yang akan menangisi k...

Sydrom Putri Malu

“Kau bilang mungkin ini yang disebut dengan sydrom putri malu. Memang harus menguncup ketika disentuh? Pertahanan diri katamu?” “Ahhhh alibi macam itu? Pertahanan diri atau memang takut? Yaps,anggap saja kau mempertahankan diri dari rasa takutmu. Aku mengerti.” “Tapi ingat kau dalam posisi tawar, kenapa malah memilih diam? Apa hasil yang kau harapkan dengan diammu itu?” “Kau berharap aku akan bicara lebih dulu? Yang dalam posisi tawar itu kau, kau yang harus memulai. Aku hanya akan menjawab apa yang kau tawarkan. Sesimple itu, aku yakin kau mengerti. Atau memang otakmu terlalu bebal untuk mengerti?” “Ingat satu lagi, time is running out. Kau harus bersaing cepat dengan waktu. Sudah berapa ratus kali jarum jam itu berputar? Dan apa yang kau lakukan sampai saat ini selain diam?” “Iya, kau hanya bisa diam, sembunyi dibalik rasa takutmu. Tidak ada yang tidak beresiko di hidup ini. Kau pikir oksigen yang kau hirup untuk hidup benar -benar bersih? Ada polusi disana sini. Dan ...

Seseorang Tolong Katakan

Katakan kepada embun, terimakasih untuk sejuk perjumpaan disetiap pagi. Katakan kepada senja, terimakasih atas hangat jingganya. Katakan kepada hujan, terimakasih untuk bau tanah basah yang dia berikan di tiap tetesnya. Dingin. Katakan kepada angin, terimakasih untuk sapaan lembutnya. Sahabat Katakan kepada sahabat, terimakasih atas kehadirannya dalam kisah ini. cipta bahagia

Ibu???

Aku bernyanyi dibawah kerlap kerlip lampu menyala merah Ibu dimana? Ibu sembunyi dibalik rimbun Aku mengetuk jendela, menengadah. Kerlip berganti kuning Ibu dimana? Ibu menghitung lembar bercampur koin Merah... Aku haus, lapar, bercampur peluh Ibu dimana? Makan lebih dulu

Tak Beranjak Pergi

Malam kembali membangun dinding keheningannnya Sunyi menguntit desah angin bertiup Apalagi yang aku rasa selain sepi Aku nyenyak sendiri Sibuk kelahi dalam pikiran sendiri Siapa lagi yang jadi topik imaji? Ya, masih senyummu yang tak beranjak pergi

Ada Banyak Kau Disini

Bacalah ini dan kau akan tau Bacalah ini dan semoga kau mengerti Bacalah dan coba lah terus kau baca Bacalah sampai kau temukan titik diakhir kata Bacalah, kau selalu ada bukan? Bacalah kau akan tau Bacalah, ini semua tentang kau Ada banyak kau disini Terima kasih kau telah membaca sampai usai Ini semua tentang kau Banyak kau disini Juga dihati dan ruang imaji.

Dia Memperhatikan Dari Surga

Dia mungkin hilang dari pandangan Tak lagi bisa kita sentuh Lenyap semua senyumnya Dia mungkin tak lagi menjadi tempat kita bersandar Tak lagi memberi rasa aman kita yang terjatuh Tapi yang pasti dia sudah tenang dalam peluk-Nya Dalam kasih sayang-Nya Bercengkerama dalam doa hanya itu yang kita bisa Dia memperhatikan dari surga Sampai bertemu bunda

Ruang Sendiri

Ketika sendiri hanya aku yang mengerti Tentang dunia yang aku cipta sendiri Bermain diruang khayal Ruang yang menyimpan tentang aku Ruang yang masih enggan aku bagi Ketika bertemu dengan mu Seperti bercermin sendiri Kau enggan berbagi Nikmati ruang sendirimu sendiri Tapi menghadapimu tak sama seperti bercermin Aku ajak kau tertawa, kau membisu Aku ajak kau tetawa, kau tertawa, kau tersenyum Kau tertawa aku tertawa, kau terdiam Kau seperti bayangan tapi tak tertebak Tak bisa direka Tapi bisakah kita berharmoni? Seperti aku dan bayanganku dicermin Tak bisakah kita berkirim memori? Berbagi cerita kita yang tersembunyi Atau kita biarkan ruang sendiri tetap kita hirup sendiri Dengan mu aku ingin berbagi...

Pijar Dihari Pertama

Pijar di hari pertama Dorrr Tanpa hitungan mundur 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 Pijar dihari pertama Dorr Melukis langit dengan cahaya Pijar di hari pertama Kita bercengkrama dengan soal beda Hujan gemericik

Apa Namanya?

Apa namanya jika tembok terbentang tapi aku berusaha terus menerjang? Apa namanya jika senja hampir usai tapi aku berharap akan terus terang? Apa namanya jika mendung tak memberi janji tapi aku berharap akan hujan? Apa namanya jika kau beranjak pergi tapi aku tetap berharap kau berdiri disini dan selamanya tinggal. Ironi memang, Iya ironi Tapi begitulah aku, Aku percaya tembok itu akan rapuh dan runtuh, esok mentari pasti hadir membawa sinar, dan hujan akan datang dengan kejutan, basah semua tanah. Begitulah aku percaya,

Aku Tersesat

Aku coba ikuti jalan pikiramu, tetapi aku tersesat Aku coba terka hatimu, tetapi aku keliru Aku coba selami semua ucapmu, tetapi aku membisu, tak mengerti hingga salah arti Karena aku alami sendiri, aku yang terlalu bodoh atau? Apa kamu memang tak untuk dipahami? Tapi aku cukup berterimakasih untuk perasaan yang membingungkan ini Beri ledakan kecil dalam hati Walaupun... Kita sama tahu akhirnya Tapi kalau kamu mau, ubahlah Aku mau mengulanginya  

Kau Tau Berapa Lama Rasa Ini Bisu?

Kau tau berapa lama rasa ini tersembunyi rapi? Kau tau betapa sesaknya dada ini menyimpan erat rasa? Aku tau begitu semua terucap ada luka yang tercipta Seperti mawar yang menggores tangan lembut sang putri. Aku tau kebodohan ini tak seharunya terlaksana Kekaguman yang terucap dan menjadikan sekarang hampa. Salahkah aku bila rasa ini ada? Tapi waktulah yang menjadikan ada. Waktu yang kita lewati bersama Dan aku coba rangkai sebuah arti Ternyata aku benar benar sendiri. Salahkah aku bila tak dapat pergi? Biar, biar aku yang rasa sendiri Biar aku sembunyi dibalik sunyi. Kau tak perlu apapun Cukup lepas senyum dan k alahkanlah mentari dengan hangat gerakmu . Biar aku mengadu pada malam Yang senantiasa datang, walau enggan mendengar Keluh kesah aku tentang kau. Tapi kau harus tau Rasa itu terlanjur ada Terlalu lama tertanam dan tidak mudah aku uapkan. Tapi kau harus tau juga Aku terus  ber’asa’ Biarkan waktu bicara dan semua te...

Risalah Hujan

Hujan adalah anugerah, tidak semua tempat beruntung mendapat berkah dari langit.  Ketika kita basah kuyup itu adalah kesempatan untuk bersyukur bagi kita yang berpikir. Atau megutukinya bagi orang-orang yang buta hatinya.#bersyukur

CERPEN : Ketika

Banyak orang beranggapan aku dan dirinya hanyalah kesalahan dalam suatu sistem, sebuah titik yang tidak sengaja tergores oleh sang maestro pada sebuah lukisan.  Kini aku benar-benar tak peduli dengan suara-suara sumbang itu, sudah penuh sesak telingaku diisi oleh suara sumbang para artis yang mampir dilayar televisi tiap pagi. Jadi tak sedikit pun kuhiraukan semua omongan miring tetang aku dan dia. Anggap saja aku begitu beruntung mendapatkannya, dan dia begitu sial mau menerimaku, atau anggap saja kepalanya habis terbetur siang itu. 21 oktober, kalau tidak salah itu tanggal dimana keberuntunganku bertemu dengan kesialannya. Aku masih ingat betul ketika aku mengucapkan kata kata yang....... ah.. kata yang hampir tak kupercayai akhirnya meluncur dari mulutku. “Tidak benar aku mencintaimu sejak pandangan pertama, tapi kalau kau percaya pada pepatah jawa ” witing tresno jalaran soko kulino”  begitulah yang aku rasakan padamu. Rindu yang terus mendatangiku tiap mal...

Bayanganmu

Hanya setitik, tapi penuhi ruang imaji Tidak sempurna, tapi cukup untuk dikatakan indah Menghimpit dada dengan rasa Membuntuti hingga ke dunia mimpi Tapi menghilang seiring mentari membuka mata

Genggam

Merebut hatimu memang tak semudah memetik mawar ditaman. Tinggal petik dan bisa dibawa pulang. Mungkin apesnya kau ketahuan mencuri dan lari tunggang langgang dikejar satpam komplek. Tapi bila berhasil lolos, mawar itu sampai dirumah juga. Tapi kau bukan mawar ditaman, bukan pula edelweis yang ada di puncak pegunungan. Kau lebih dari keindahan yang diciptakan Tuhan dalam bentuk bunga-bunga cantik itu. Kau??? Hanya aku dan aku yang mampu mendeskripsikannya. Bantulah aku kalau kau mau menjabarkan siapa kau sebenarnya. Mungkin kau pemanis dari semua karya cipta Tuhan. Membayangkan wajahmu membuat semuanya tampak indah dipandang. Atau kau memang benar-benar bunga???  Bunga tidur ... Kau hanya bisa dijamah di sisi dunia yang lain, tapi tak benar-benar bisa dibawa ke dunia yang nyata.. Semoga tidak.  Semoga kau memang benarbenar kau. Kau yang aku kenal dan terus aku kenal, dan aku genggam.