Postingan

Menampilkan postingan dari 2013

Bio Seorang Sahabat

Tiba tiba keinget bio seorang teman di twitter, ”hanya ingin banyak yang menangisi ketika mati” , begitu tulisnya. Sekilas seperti bio-bio lainnya, tak ada yang berbeda. Tapi ada yang membuat saya bertanya pada diri sendiri. Kira-kira ketika nanti saya mati berapa banyak orang yang menangisi kepulangan saya? Apakah akan sebanyak orang yang menangisi wafatnya habib munzir dan ustad uje al buqhori, yang pengantarnya sampai ribuan orang. Atau malah ketika jenazah saya hendak dikebumikan gak ada sama sekali yang mengantarnya. Atau jangan-jangan para pengantar itu rela membopong keranda karena imbalan uang? Ada aksi ada reaksi, begitu kira-kira bunyi hukum newton kedua. Banyaknya pengantar habib munzr dan ustad uje pasti gak lepas dari apa yang mereka lakukan  selama hidup. Pasti banyak orang yang merasakan kebaikan mereka selama hidup, sehingga ketika mereka meninggal, orang orang itu merasa kehilangan. Balik lagi ke persoalan ketika saya mati berapa banyak yang akan menangisi k...

Sydrom Putri Malu

“Kau bilang mungkin ini yang disebut dengan sydrom putri malu. Memang harus menguncup ketika disentuh? Pertahanan diri katamu?” “Ahhhh alibi macam itu? Pertahanan diri atau memang takut? Yaps,anggap saja kau mempertahankan diri dari rasa takutmu. Aku mengerti.” “Tapi ingat kau dalam posisi tawar, kenapa malah memilih diam? Apa hasil yang kau harapkan dengan diammu itu?” “Kau berharap aku akan bicara lebih dulu? Yang dalam posisi tawar itu kau, kau yang harus memulai. Aku hanya akan menjawab apa yang kau tawarkan. Sesimple itu, aku yakin kau mengerti. Atau memang otakmu terlalu bebal untuk mengerti?” “Ingat satu lagi, time is running out. Kau harus bersaing cepat dengan waktu. Sudah berapa ratus kali jarum jam itu berputar? Dan apa yang kau lakukan sampai saat ini selain diam?” “Iya, kau hanya bisa diam, sembunyi dibalik rasa takutmu. Tidak ada yang tidak beresiko di hidup ini. Kau pikir oksigen yang kau hirup untuk hidup benar -benar bersih? Ada polusi disana sini. Dan ...

Seseorang Tolong Katakan

Katakan kepada embun, terimakasih untuk sejuk perjumpaan disetiap pagi. Katakan kepada senja, terimakasih atas hangat jingganya. Katakan kepada hujan, terimakasih untuk bau tanah basah yang dia berikan di tiap tetesnya. Dingin. Katakan kepada angin, terimakasih untuk sapaan lembutnya. Sahabat Katakan kepada sahabat, terimakasih atas kehadirannya dalam kisah ini. cipta bahagia

Ibu???

Aku bernyanyi dibawah kerlap kerlip lampu menyala merah Ibu dimana? Ibu sembunyi dibalik rimbun Aku mengetuk jendela, menengadah. Kerlip berganti kuning Ibu dimana? Ibu menghitung lembar bercampur koin Merah... Aku haus, lapar, bercampur peluh Ibu dimana? Makan lebih dulu

Tak Beranjak Pergi

Malam kembali membangun dinding keheningannnya Sunyi menguntit desah angin bertiup Apalagi yang aku rasa selain sepi Aku nyenyak sendiri Sibuk kelahi dalam pikiran sendiri Siapa lagi yang jadi topik imaji? Ya, masih senyummu yang tak beranjak pergi

Ada Banyak Kau Disini

Bacalah ini dan kau akan tau Bacalah ini dan semoga kau mengerti Bacalah dan coba lah terus kau baca Bacalah sampai kau temukan titik diakhir kata Bacalah, kau selalu ada bukan? Bacalah kau akan tau Bacalah, ini semua tentang kau Ada banyak kau disini Terima kasih kau telah membaca sampai usai Ini semua tentang kau Banyak kau disini Juga dihati dan ruang imaji.

Dia Memperhatikan Dari Surga

Dia mungkin hilang dari pandangan Tak lagi bisa kita sentuh Lenyap semua senyumnya Dia mungkin tak lagi menjadi tempat kita bersandar Tak lagi memberi rasa aman kita yang terjatuh Tapi yang pasti dia sudah tenang dalam peluk-Nya Dalam kasih sayang-Nya Bercengkerama dalam doa hanya itu yang kita bisa Dia memperhatikan dari surga Sampai bertemu bunda

Ruang Sendiri

Ketika sendiri hanya aku yang mengerti Tentang dunia yang aku cipta sendiri Bermain diruang khayal Ruang yang menyimpan tentang aku Ruang yang masih enggan aku bagi Ketika bertemu dengan mu Seperti bercermin sendiri Kau enggan berbagi Nikmati ruang sendirimu sendiri Tapi menghadapimu tak sama seperti bercermin Aku ajak kau tertawa, kau membisu Aku ajak kau tetawa, kau tertawa, kau tersenyum Kau tertawa aku tertawa, kau terdiam Kau seperti bayangan tapi tak tertebak Tak bisa direka Tapi bisakah kita berharmoni? Seperti aku dan bayanganku dicermin Tak bisakah kita berkirim memori? Berbagi cerita kita yang tersembunyi Atau kita biarkan ruang sendiri tetap kita hirup sendiri Dengan mu aku ingin berbagi...

Pijar Dihari Pertama

Pijar di hari pertama Dorrr Tanpa hitungan mundur 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 Pijar dihari pertama Dorr Melukis langit dengan cahaya Pijar di hari pertama Kita bercengkrama dengan soal beda Hujan gemericik