Postingan

CERPEN : Ketika

Banyak orang beranggapan aku dan dirinya hanyalah kesalahan dalam suatu sistem, sebuah titik yang tidak sengaja tergores oleh sang maestro pada sebuah lukisan.  Kini aku benar-benar tak peduli dengan suara-suara sumbang itu, sudah penuh sesak telingaku diisi oleh suara sumbang para artis yang mampir dilayar televisi tiap pagi. Jadi tak sedikit pun kuhiraukan semua omongan miring tetang aku dan dia. Anggap saja aku begitu beruntung mendapatkannya, dan dia begitu sial mau menerimaku, atau anggap saja kepalanya habis terbetur siang itu. 21 oktober, kalau tidak salah itu tanggal dimana keberuntunganku bertemu dengan kesialannya. Aku masih ingat betul ketika aku mengucapkan kata kata yang....... ah.. kata yang hampir tak kupercayai akhirnya meluncur dari mulutku. “Tidak benar aku mencintaimu sejak pandangan pertama, tapi kalau kau percaya pada pepatah jawa ” witing tresno jalaran soko kulino”  begitulah yang aku rasakan padamu. Rindu yang terus mendatangiku tiap mal...

Bayanganmu

Hanya setitik, tapi penuhi ruang imaji Tidak sempurna, tapi cukup untuk dikatakan indah Menghimpit dada dengan rasa Membuntuti hingga ke dunia mimpi Tapi menghilang seiring mentari membuka mata

Genggam

Merebut hatimu memang tak semudah memetik mawar ditaman. Tinggal petik dan bisa dibawa pulang. Mungkin apesnya kau ketahuan mencuri dan lari tunggang langgang dikejar satpam komplek. Tapi bila berhasil lolos, mawar itu sampai dirumah juga. Tapi kau bukan mawar ditaman, bukan pula edelweis yang ada di puncak pegunungan. Kau lebih dari keindahan yang diciptakan Tuhan dalam bentuk bunga-bunga cantik itu. Kau??? Hanya aku dan aku yang mampu mendeskripsikannya. Bantulah aku kalau kau mau menjabarkan siapa kau sebenarnya. Mungkin kau pemanis dari semua karya cipta Tuhan. Membayangkan wajahmu membuat semuanya tampak indah dipandang. Atau kau memang benar-benar bunga???  Bunga tidur ... Kau hanya bisa dijamah di sisi dunia yang lain, tapi tak benar-benar bisa dibawa ke dunia yang nyata.. Semoga tidak.  Semoga kau memang benarbenar kau. Kau yang aku kenal dan terus aku kenal, dan aku genggam.

Terbawa Mimpi

Senja mulai menghilang Bait mimpi terangkai Dalam lelap mata           Semua keindahan mu tersentuh Saat pagi menjelma           Bisakah ku bawa?

Ketika Hujan Benar-Benar Hujan

Pasti pernah melihat langit begitu hitam, mendung sudah menggantung, dan angin berhembus dengan dingin. Tapi ternyata hujan tak jadi datang. Tibatiba langit menjadi cerah dan mendung hilang entah kemana. Hujan hanya memberikan kita harapan bahwa tanah akan basah dan sejuk akan segera datang. Tapi ternyata dia ingkar. Pasti pernah menggantungkan harapan kepada langit, tapi langit dengan tega melepas genggaman kita dan membiarkan kita jauh terhepas ke tanah. Sakit? Mungkin iya. Tapi satu yang pasti teruslah berharap bahwa hujan akan datang. Dan  dia akan memberikan kesejukan-kesejukan yang kita lama idamkan, membayar semua kenangan kita tentang bau tanah basah dengan kenyataan. Dan ketika hujan benar-benar hujan, nikmatilah anugerah Allah itu, bersyukurlah. Rasakan kesejukan, nikmati betul tiap tetesnya. Dan percayalah bahwa semua harapan pasti akan menjadi nyata... Di tetesan hujan, Allah menunjukan karunia-Nya.  Tak ada harapan yang sia-sia.

Romantisme Musim Hujan

Romantisme musim hujan adalah ketika ulat sukses dengan metamorfosisnya           Cantik, Berlarian disekitar bunga Romantisme musim hujan adalah dua sejoli berteduh dibawah jembatan           Memberi rasa aman Menghalau guyuran hujan Romantisme musim hujan adalah ketika berharap kau pandangi tiap tetesnya           Ada rindu yang kutitipkan                    Pada hujan dan bau tanah basah

Nyanyian Hujan (Ketika Kau Memulai)

Semua dimulai ketika kau menyapa dengan rasa Tidak dihari pertama Tidak juga pada pandangan pertama Semua dimulai ketika kau tersenyum dengan arti           Tatap mata menyentuh hati Dan semua dimulai ketika aku tersesak dalam candamu           Membisu dalam diammu                    Tersesat karena sorot matamu Namamu terngiang  Bersama nyanyian hujan